Versi Dilan lain yang lahir 1995

Menyayangkan kenapa banyak tulisan yang dihapus; padahal banyak cerita tentang kisah percintaan dulu yang menyenangkan.

Dari dia, perempuan dingin ini tau rasanya dicintai dan jadi belajar bagaimana seharusnya mencintai. Pelajaran yang lebih rumit dari menghafal banyak rumus fisika, karena gue suka dan bisa.

Jadi, di postingan kali ini, mau menulis ulang momen di masa lalu. Buat pengingat ke diri sendiri dan orang yang baca… bahwa dicintai adalah hak semua orang dan mencintai adalah pilihan.

Sebenarnya lupa dia lahir kapan, tapi mungkin kita seumuran. Yang gue ingat adalah kata-kata terakhirnya,

“Suka sama kamu itu susah. Mau bilang ratusan kali kalau aku suka, kamu juga gak akan percaya. Sampai akunya bingung mau buktiin gimana. Maaf kalau aku nyerah, semoga laki-laki setelah aku bisa kamu sayang; karena kalau mereka sayang kamu, itu udah pasti.”

Dengar itu, gue langsung tanya, “Kenapa udah pasti?”

“Karena kamu menyenangkan, makanya aku selalu senang jalan sama kamu. Ya walaupun setiap hari ada saja hal yang bikin kesal.”

“Contohnya?”, saat itu merespons seadanya karena lagi di motor.

“Kamu bilang teman-teman kamu gak suka aku, katanya aku gabaik,” dia diam sebelum melanjutkan perkataannya, “Aku sedih bukan karena mereka bilang gitu, tapi karena orang yang aku sayang, lebih percaya sama mereka.”

Lalu kita diam di sepanjang perjalanan sampai tiba di tujuan. Bukan akhir yang baik, memang. Tapi saat itu ego lagi tinggi-tingginya dan ada fokus lain yang harus dikejar, yaitu belajar.

Sampai sekarang, ada satu lagu yang masih bikin senyum-senyum sendiri; karena ingat bagaimana dia nyanyi tepat di telinga untuk menggambarkan kondisi kita saat itu. Kayak air dan api.

Bahkan, meskipun gak ada rasa, gue senang kalau ingat bagaimana dia memperlakukan si perempuan menyebalkan ini dengan manis, versinya.

“Kamu jangan turun dulu”, katanya.

“Kenapa? Kan udah sampai.”

“Iya, jangan dulu,” lalu dia turun dari motor dan aku masih di jok bingung, terus dengan PD dia mengulurkan kedua tangannya, “Silahkan turun.”

“IH! Ini kan di motor, bukan mobil”, aku ketawa dan dia senyum.

Masih banyak perilaku spontan yang dia lakuin sebenarnya, tapi kalau ditulis semua, bisa jadi buku.

“Di mana?”, tanyanya di telepon.

Gak lama orangnya muncul dan langsung narik tangan gitu aja, “Eh mau ke mana?”, yang ditanya cuma jawab katanya rahasia.

Ternyata diajak buat ketemu sama ibu-ibu. Dia mau wawancara buat tugasnya. Gue diam aja karena gak ada briefing apa-apa. Pas selesai ibunya bilang,

“Kalian pacaran ya? Cocok.”

Gue cuma senyum sambil ngangkat tangan tipis-tipis buat mengelak. Si dia cuma ngelihatin sambil pamit pulang.

Pas di jalan, dia kegirangan sambil bilang “Yes” entah kenapa.

“Kenapa?”, aku nanya karena bingung.

“Aku senang jalan sama kamu, makasih ya.”

Gue senyum aja di belakangnya.

Kalau ditanya gue suka sama dia atau enggak, akhirnya suka setelah dia coba yakinin beberapa kali, tapi gue gak mau kalau diajak pacaran. Karena gue takut disakitin dan akhirnya pisah.

“Kamu kenapa mau sama aku?”, aku tanya serius waktu itu.

“Aku udah sering bilang ke kamu, kan?”

“Iya, tapi kenapa gak sama yang lain aja? Banyak yang lebih cantik dan pintar dari aku.”

Dia diam, ngelihatin, sebelum akhirnya jawab,

“Kamu pikir aku laki-laki kayak gimana? Cinta itu gak selalu mandang fisik. Lagian, kalau kamu gak cantik, aku mana mau deketin.”

Gue tetap diam, terus dia coba menghibur.

Kejadiannya sudah beberapa tahun lalu. Dan setelah dia, sempat dekat dengan beberapa orang, tapi akunya enggak mau. Padahal mereka sudah berusaha, sesuai versi mereka.

Mungkin namanya karma, sekian tahun lalu, aku pernah dekat sama orang yang berhasil bikin duniaku hancur; sikapnya dan orang-orang di sekitarnya. Tapi semua sudah lewat dan aku sudah baik-baik aja.

Semoga.

Comments